Usia 20-an adalah usia yang memberikan tekanan paling besar dalam hidup. Tentu saja karena usia ini adalah masa penentu dari karier di masa depan. Merasa cemas dan tertekan akan menjadi bagian alami dari usia ini, meski banyak anak muda yang sepertinya kurang mampu menghadapinya. Siapa yang tidak menginginkan pekerjaan mapan dan pendapatan yang tinggi ? bukankah akan sangat baik jika kita dapat memperoleh pekerjaan yang bagus, lebih cepat lebih baik.. tapi, Jangan memutuskan masa depan hanya berdasarkan pada kemapanan pekerjaan dan pendapatan yang tinggi. ada banyak hal penting yang harus kita pertimangkan, termasuk kenyamanan dalam pekerjaan itu sendiri. Keberhasilan yang kita dapatkan ketika melakukan suatu pekerjaan jauh lebih menggembirakan daripada kebahagiaan yang kita rasa ketika membeli sebuah produk yang di sukai.. oleh karena itu, jangan memilih kariermu di masa depan berdasar pada seberapa banyak kamu akan di bayar, atau semapan apa pekerjaan tersebut. Namun renca...
ketika pendidikan kita di dunia kampus telah selesai, kita akan menemukan begitu banyak pertanyaan tentang pekerjaan. orang tua menantikan kita untuk bekerja, orang-orang terdekat kita terus memojokkan pertanyaan kapan kamu bekerja ? kamu kerja dimana sekarang ? pertanyaan itu akan membuat kita sedikit frustasi karena kita akan memasuki dunia yang perbedaannya dengan masa-masa kuliah bagaikan bumi dan langit. di mana ketika kuliah kita hanya memerlukan uang untuk memenuhi kebetuhan, campur orang tua masih sepenuhnya. tapi dunia kerja adalah tempat dimana kita belajar mendapatkan uang, tak ada bantuan dari orang tua, dan orang-orang terdekat, yang ada hanyalah diri kita sendiri. Perlahan akupun mulai mengerti, sepertinya bukan cuma aku saja yang tergila-gila dengan bekerja. tapi semua orang membutuhkan pekerjaan. Pekerjaan adalah salah satu unsur paling utama dalam menjalani hidup ini. semua kebutuhan kita di topang dari pekerjaan yang sedang kita lakukan sampai hari in...
kamis, 7 Maret 2019... seminggu rasanya aku di borongi begitu banyak masalah, masalah sepertinya lagi menyukaiku sampai tak pernah meninggalkanku. marah, tentu!. aku melampiaskan kemarahanku ketika aku sedang sibuk dan tak di hargai. tanpa sadar aku menyakiti hati teman sampai harus meninggalkan pekerjaan. Dalam posisi waktu itu teman yang lain menganggap aku tak bersalah. tapi tetap saja aku tak nyaman dengan apa yang sudah aku perbuat. rasanya jam berdetak begitu lambat. aku pulang merenungkan semua yang terjadi, rasanya aku jadi orang yang paling gagal saat mengingat kejadian itu. tanggung jawabku untuk membuat karyawan nyaman dengan pekerjaannya justru membuatnya menjadi tak nyaman. sabtu, 9 maret aku off. harapanku cuma satu waktu itu. berharap aku bisa menenangkan diri, bersantai dari rutinitas dan pekerjaan yang melelahkan. tapi pikiranku hanya di tempat kerja dan berharap mendengar kabar bahwa dia sudah masuk bekerja.Tapi, ternyata harapanku belum terkabul. dia masih ...
Komentar
Posting Komentar