Kelak Setiap Kenangan Hanya Akan Berakhir Pada Ingatan

7 Mei 2019, aku dapat pesan Wa dari sahabatku pukul 22.13. aku membacanya pagi hari setelah bangun..

pesan itu datang ketika aku memposting Sebuah kutipan dari buku yang aku baca.
dia mengatakan "dari beberapa tahun kenal ika ahirnya jadi penggemar buku, dulu cuma beli buku tidak di baca. kalaupun mau baca kalau mood" 
aku membalas pesan itu dengan singkat "dulu hidup belum sekejam sekarang" lalu dia membalasnya tertawa dan mengatakan itu betul.
dulu itu sekitar 3 tahun yang lalu, ketika masih kuliah aku sering membeli buku, buku untuk di pajang di kamar, atau hanya karena tertarik dengan judulnya. Aku masih ingat, aku pernah Membeli Novel karya Boy Candra. aku hanya membaca sampul depannya saja lalu ku bungkus dengan rapih kembali. lalu dia meminjamnya dan sampai sekarang tidak di kembalikan. terakhir buku itu diberikan ke sahabatku yang satunya. Entahlah aku tak pernah tau apakah dia membacanya atau hanya menyimpannya sebagai pajangan.
Aku akan membaca buku, jika buku itu benar-benar sesuai dengan kondisiku atau bisa memberikan motivasi tersendiri. ada satu buku yang hampir tak pernah aku lupakan dan selalu membawahnya ke kemana-mana aku membelinya tahun 2015 ketika pertama kali datang di manado. Judulnya 
"Menertawakan Kegagalan" salah satu buku Best seller karya Nistain Odop.

Minggu lalu ketika aku sedang menikmati sore hari dengan langit berwarna jingga yang perlahan-lahan di telan kegelapan, aku menghabiskan waktu membaca buku yang di tulis Rando Kim "Time of Your Life"-bagimu masa mudah hanya sekali- buku ini di tulis untuk putranya yang berusia 20an tahun. di sampul depan ada kata-kata yang begitu menarik perhatianku "Masa mudah adalah saat kamu merasa : Bingung, tidak berdaya, Takut, kesepian, Cemas, Sekaligus Bahagia. Itulah masa mudah". Buku ini di tulis dengan emosi yang benar-benar sampai ke hati pembaca dan sangat mudah di pahami. ada empat bagian yang benar-benar akan mengubah pikiran ketika membacanya, yang pertama  : Jawabannya ada di Matamu. yang kedua, Titik Terendah Dalam hidupmu tidak sejauh yang kamu pikirkan. ketiga keajaiban datang secara perlahan. dan terakhir, Hidup yang Ditentukan Hari esok, Hidup Yang di tentukan Oleh Panggilan hidupmu. Aku membacanya 1 tahun yang lalu ketika usiaku 24 tahun, dan aku merasa buku di tujukan padaku ketika aku berumur segitu.

Aku berumur 25 tahun 12 april 2019, bulan lalu. aku kembali di kejutkan dengan buku kedua yang di tulis Rando Kim judulnya "Amor Fati" -Cintai Takdirmu- di sampul depan tertulis " Untuk kamu, yang beranjak Dewasa..."

aku membelinya minggu lalu dan menghabiskan waktu 6 hari membacanya, cukup lama aku membacanya. biasanya aku menghabiskan membaca buku 2 hari dengan halaman yang hanya sampai 300. aku menghabiskan 4 jam untuk membacanya setiap malam ketika pulang kerja. dan ketika pukul 00.00 aku harus kembali tidur. 
Amor Fati membuatku mengerti, menjadi Dewasa tidak di lihat dari angka Lilin setiap kita berulang tahun. ada Proses yang makin berat dalam hidup yang kadang tak bisa kita kendalikan.

hari rabu 8 mei 2019 ada pesan yang masuk di grup. Sahabatku sedang mengalami masa dimana dia tak bisa mengendalikan hidup yang sedang dia jalani dan akhirnya membuatnya tidak sanggup. Si A berkata :
"capek, lelah, dan rasanya tidak sanggup mengerjakan semuanya. libur tetap masuk karena ada bebarapa kerjaan lain yang harus di selesaikan. semua waktu hanya di kerjaan".
Lalu di susul si B
"kadang saya juga lelah, tapi bukan lelah di pekerjaanya tapi karena tekanannya".
Dan terakhir si C pun berkata: 
" Apa kabar saya yang bebannya makin banyak".

ketika pulang ku lanjutkan membaca, sambil tersenyum melihat penderitaan kami yang hampir sama. 
ada satu bagian dalam buku Amor Fati yang menuliskan bahwa "Hidup Adalah Penderitaan" semua orang di muka bumi ini di rundung penderitaan, tapi penderitaan itulah yang akan memproses kita menjadi manusia yang bernilai.
Aku selalu percaya dengan Promise God, Tuhan tidak memberikan cobaan yang melampaui kemampuan kita. Tuhan ijinkan permasalahan itu karena Tuhan percaya kita dapat melewatinya. Terkadang sikap manusia kita begitu lemah tak bisa di pungkiri, ingin menyerah, putus asa, menangis. semua itu wajar. karena aku adalah orang yang selalu mengalami itu..
Tapi setelah melewati itu, ada kepuasan tersendiri yang tak bisa di ungkapkan. Sekali lagi Tuhan adalah Pribadi yang begitu Romantis.

Semalam, ada teman yang menanyakan Kapan akan menikah dan dengan siapa akan  menikah.
kalau di tanya soal itu aku bingung ingin menjawab apa, karena aku belum memikirkannya.
sebelum pertanyaan itu muncul beruntung aku sudah membaca bagian dari buku "Amor Fati" tentang persyaratan menikah. 
orang-orang selalu berpikir keras tentang, 
"pasangan seperti apa yang akan di temui" 
padahal, masalah yang jauh lebih penting adalah
 "bagaimana aku akan mencintai"
seseorang memiliki hubungan cinta yang kotor, karena ia orang yang kotor
seseorang memiliki hubungan cinta yang rumit, karena ia orang yang rumit
-love idiot, Oh So Hee 
karena video call yang di sambung dengan beberapa teman, aku menjawab sembarang dari pada harus diam.. hehehe
ketika video callnya berakhir aku membalas chatnya dengan memberikan dua pertanyaan.
pertama, setelah menikah apa cobaan terbesar laki-laki ?
lalu dia menjawab cobaan terbesar baginya adalah menjaga keluarganya, ada tanggungjawab yang lebih besar yaitu menjadi ayah dari sebuah keluarga baru yang harus sanggup di nafkahi dan menjadi tulang punggung.
pertanyaan kedua, apa yang membuatmu yakin memilih menikah ?
jawabannya cukup mengejutkan yaa, " jujur, saya belum mau menikah, tapi karena keluarga sudah mau dan saya berpikir cepat atau lambat saya akan menikah juga makanya daripada menunggu lama mending segerah menikah saja, sempat saya bimbang mau menikah di kampung orang atau pulang nikah di kampung sendiri dengan perempuan yang di pilih sama orang tua, tapi akhirnya menikah di kampung orang "

menikah adalah salah satu persimpangan terpenting dalam hidup. menikah atau tidak, kapan, dan dengan siapa. itu tergantung kita menyikapi pilihan yang ada. 
Socrates pernah berkata " Pernikahan adalah sebuah penyesalan, baik di lakukan maupun tidak".
semua orang jika di tanya mau menikah, pasti jawabannya adalah menikah. 
saya pribadi pernikahan adalah nomor urut kedua yang saya takutkan dalam hidup. ketika mulai bekerja aku satu team dengan orang-orang yang kebanyakan sudah berkeluarga. kadang aku bertanya sama mereka, rasanya setelah menikah bagaimana ? kadang jawabannya hanya seadanya saja "yaa begitulah, kadang ada juga yang menjawab makin berat". bahkan aku sering mendengar kata-kata yang di tujukan padaku, bersyukur karena belum menikah. belum ada tanggungan.. 
Beberapa kali aku sering manjadi pendengar tentang masalah mereka dalam rumah tangga, ada yang hampir tiap minggu bertengkar dengan istrinya. kadang aku berfikir apa si yang istrinya cari padahal gaji besar, semua kebutuhan hampir terjamin dari perusahaan. lalu mereka menjawab uang bukanlah segalahnya, mereka hanya minta waktu untuk bisa bermain dengan anak-anak dan mendengar keluhan mereka.. 

untuk saat ini aku belum bisa mengerti kehidupan itu..
tapi percayalah setiap masalah pasti akan selesai.

Manado 12 mei 2019
Selamat tidur....





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Temukan Jawabannya di Matamu

Terimakasih

HADAPI MASALAHMU- HIDUP ITU INDAH